AAN SEMPAT BERUBAH ALIRAN
Sering ikut lomba nyanyi sejak TK, terutama saat tujuhbelasan dan punya ayah yang mendirikan grup musik dangdut di rumah, membuat Dwi Atmojo tak asing dengan lagu dangdut. Tak heran, finalis asal Mojokerto ini lantas bercita-cita jadi penyanyi dangdut. "Saat kelas 2 SMP, saya sempat nyanyi bersama paman yang punya Orkes Omega," jelas pemuda yang mulai nyanyi dangdut sejak kelas 3 SD ini.Umur 9 tahun, cowok yang akrab disapa Aan ini menikmati honor pertamanya sebesar Rp 10 20 ribu. "Biasanya, begitu dapat amplop aku langsung kasihin ke ibu," jelasnya. Namun, saat sekolah di SMKI (Sekolah Menengah Kesenian Indonesia) jurusan musik, Aan sempat berubah aliran. Dari dangdut ke lagu-lagu Top 40. Dia juga tergabung dalam beberapa band, antara lain GAM (Gabungan Arek Musik), Wafer Band dan A Plus Band.Selain jadi vokalis, di band-band yang dibentuknya bersama teman-teman sekolahnya tersebut, Aan juga memainkan alat musik, antara lain perkusi. Lulus dari SMKI tahun 2003, pemuda kelahiran 1983 ini sempat mengajar musik di Madura selama dua bulan.Namun, kecintaan Aan pada musik dangdut tak pernah berakhir. "Aku memutuskan jadi penyanyi dangdut karena dukungan dari semua teman. Karena mereka udah tahu aku punya basic dangdut. Selain itu juga karena dorongan dari orang tua," ujar Aan.